Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


BAB ZIARAH DAN MOHON DO'A RESTU ORANG SHALEH .




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Lengkapnya Bab mengunjungi dan bergaul dengan orang-orang shaleh, memohon do'a restu mereka serta ziarah ke tempat-tempat teristimewa menurut pandangan Islam: Dan ayat-ayat Al Qur'an yang menyerukan diantaranya; Firman Allah :

{٦٠} وَاِذْ قَلَ مُوْسٰى لِفَتٰهُ لَٓا اَبْرًحُ حًتّٰىٓ اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا {٦١} فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فٍى اْلبَحْرِ سَرَبًا {٦٢} فَلَمَّاجَوَزَا قَالَ لِفَتٰهُ آتٍنَا غَدَآءَنَا لَقَدْ لَقِيْنَامِنْ سَفَرٍنَا هٰذَا نَصَبًا {٦٣} قَلَ اَرَيْتَ اِذْاَوَيْنَآ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِنِّيْ نَسِيْتُ اْلحُوْتَ وَمَآ اَنْسٰنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْ كُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فِىْ اْلبَحْرِ عَجَبًا. {٦٤} قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلٰٓ اٰثَارِهِمَا قَصَصًا. {٦٥} فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اَتَيْنٰهُ رَحْمَةً مًَنْ عِنْدٍنًَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا. {٦٦} قَلَ لَهُ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .

”Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pemudanya, ”Senantiasalah (aku berjalan) hingga aku sampai pada tempat pertemuan dua laut atau aku akan berjalan beberapa lama”. Maka tatkala keduanya sampai pada pertemuan dua laut itu, mereka berdua lupa akan ikannya, maka ikan itu mengambil jalannya meluncur ke laut. Tatkala keduanya telah melampauinya, Musa berkata kepada pemudanya, ”Bawakanlah makanan kita sungguh kita merasa letih dalam perjalanan kita ini”. Berkata (pemuda itu), ”Tidakkah engkau tahu tatkala kita berlindung di sebuah batu, lalu aku lupa akan ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk mengingatnya melainkan setan, dan ia telah mengambil jalan di laut dengan mengherankan”. Musa berkata, ”Itulah yang kita cari”. Lalu keduanya kembali mengikuti jejaknya (semula). Mereka menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami (Khidir) yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya suatu ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, ”Bolehkah aku mengikut engkau agar engkau ajarkan kepadaku sebahagian yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk? ” (QS. Al-Kahfi : 60-66).

الَّذِيْنَ تَتَوَفَّهُمُ اْلمَلّٰٓــِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ فَاَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوْٓءٍ بَلٰٓى اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ بِمَاكُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ .

”(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat sedang mereka menganiaya diri sendiri, lalu mereka tunduk (berkata), ”Kami tidak mengerjakan kejahatan.” Sebenarnya (kamu telah mengerjakannya), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Kahfi : 28).

2. Dari Uqbah bin Amr, katanya:

1. Dari Anas: ”Sesudah wafatnya Rasulullah saw. Abu Bakar mengajak Umar berkunjung (ziarah) ke rumahnya Umu Aiman, seperti yang dilakukan oleh Rasul Saw. semasa hidupnya. Sesampainya mereka di rumah Umu Aiman, secara tiba-tiba orang itu menangis, dan sewaktu ditanya: ”Kenapa anda harus menangis, tahukah anda bahwa tempat yang disiapkan Allah sangat baik bagi Rasul-Nya? Jawabnya: ”Bukan itu faktor penyebabnya, sebab aku tempat yang disediakan Allah jauh sangat mewah dan istimewa bagi Nabi-Nya, namun faktor penyebabnya adalah terhentinya wahyu samawi. Mereka berdua sangat terharu dengan jawabannya itu, sehingga semuanya menangis”. (HR. Muslim).

2. Dari Abu Hurairah: Nabi Saw. bersabda: ”Seorang pria mengunjungi kawannya di suatu kampung, bukan kampungnya sendiri, di tengah perjalanan ia dicoba oleh Allah yakni diturunkan seorang malaikat (menjelma manusia), kata malaikat: Kau akan kemana? Jawabnya: ”Aku hendak mengunjungi kawanku karena Allah, lalu ditanya lagi: ”Tujuanmu berkunjung itu apakah sekedar membalas budi kebaikan kawanmu itu ataukah ada faktor pendorong lainnya? Jawabnya : "Bukan, aku hanya berdasarkan kasih sayang kepadanya, karena Allah, semata. Selanjutnya malaikat berkata: "Aku adalah utusan Allah yang ditugaskan menemuimu, dan memberi tahu bahwa: "Allah mengasihi dan menyayangimu sebagaimana anda mengasihi dan menyayangi kawan semata mengharap ridho Allah". (HR. Muslim).

3. Dari Abu Hurairah, Rasul Saw. bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيْضًـا اَوْزَارَأَخًا لَٔهُ فِى اللّٰهِ نَادَاهُ مُنَا دِيَانِ: طِبْتَ وَطَابَ مَهْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ اْلجَنَّةِ مَنْزِلًا .

Artinya: ”Barang siapa menengok orang sakit atau mengunjungi kawan semata karena Allah, maka diserukan kepadanya : "Selamatlah anda menjadi penghuni surga". (HR. Turmudzi).

4. Dari Abu Musa, Nabi Saw. bersabda: "Persidangan yang baik dengan persidangan yang buruk diumpamakan seperti tukang misik dengan tukang pandai. Tukang misik terkadang memberi kepadamu atau kamu membeli kepadanya, atau kau hanya memperoleh bau harumnya. Sedangkan tukang pandai/peniup api, jika tidak membakar pakaianmu maka kamu akan memperoleh bau dari dari padanya". (HR. Bukhari Muslim).

5. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda:

تُنْكًحُ اْلمَرْأًةُ لِاَرْبًعِ لِمَالِهَا وَلحِسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ .

Artinya : "Seorang wanita dikawin berdasarkan 4 perkara, yaitu: Karena harta bendanya, keturunan, atau kecantikannya atau karena kuat iman/agamanya. Maka dulukanlah istri yang kuat iman/agamanya, pasti bahagia dan beruntunglah usaha anda".

6. Dari Ibnu Abbas, Nabi Saw. bersabda kepada Jibril, Hai Jibril, faktor apakah yang menghalangi anda tiada banyak mengunjungi kami? Jawabnya: Firman Allah s. Maryam : 64". (HR. Bukhari).

Inilah ayatnya :

وَمَآ نَتَنَزَّلُ اِلَّا بِاَمٍرِرَبِّكَ ، لَهُ مَابَيْنَ اَيْدِيْنَا وَمَآ خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذٰلِكَ.

Artinya: "Tiadalah kami (jibril) turun, kecuali atas perintah Tuhanmu. KepunyaanNya apa-apa yang di hadapan kami dan apa-apa yang di belakang kami serta apa-apa yang diantara keduanya". (QS. Maryam : 64).

7. Dari Abu Sa'id Hudri, Nabi Saw. bersabda:

َ لَاتُصَاحِبْ اِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ اِلَّا تَفِىٌّ .

Artinya: "Hai masyarakat muslim, janganlah sekali-kali kalian mencari kawan hidup, kecuali orang-orang mukmin, dan janganlah sekali-kali anda memberi makan kecuali kepada orang yang bertakwa". (HR. Abu Daud-Turmudzi).

8. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda;

َ الََرَجُلُ عَلٰى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرُ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ .

Artinya: "Seseorang mudah terpengaruh oleh keyakinan agama kawan setianya, oleh sebab itu telitilah secermatnya dengan siapa ia berkawan". (HR. Abu Daud-Turmudzi).

9. Dari Abu Musa, Rasul Saw. bersabda:

اَلْمَرْءُمَعَ مَنْ اَحَبَّ (متفق عليه).

Artinya: "Seseorang pasti berdampingan dengan orang yang dicintainya". (HR. Bukhari Muslim).

Riwayat lain : sewaktu beliau ditanya : "Kenapa ada seseorang mengasihi masyarakatnya, namun tidak bersama dengan mereka? Jawabnya: "Seseorang pasti berdampingan dengan orang yang ia cintai". (sekalipun tiada di dunia).

10. Dari Anas : "Ada seorang dusun bertanya kepada Rasul Saw. : katanya: "Kapan tibanya hari kiamat itu? Jawabnya: "Bekal apakah yang sudah kau persiapkan untuk menghadapinya? Jawab orang disun itu : "Hanya mencintai Allah dan rasul-Nya. Lalu sabdanya : "Anda akan bersampingan dengan orang yang anda cintai. (HR. Bukhari Muslim).

11. Dari Ibnu Jabir ; "Umar bin Khattab bertanya kepada para tamu dari Yaman yang berkunjung kepadanya: "Apakah ada yang bernama Uwais bin Amir? Hingga sewaktu ia bertemu, katanya: "Ya, lalu katanya pula: "Anda aslinya dari suku Murad, lalu Qaran ? Jawabnya: "Ya, benarkah anda semula berpenyakit belang lalu sembuh dan yang menyisa sebesar dirham? Jawabnya: "Ya. Dan katanya pula: "Anda punya ibu masih hidup ? Jawabnya: "Ya. Selanjutnya Umar berkata: "Aku dengar Rasul Saw. bersabda: "Nanti akan berkunjung kepada kalian seorang bernama Uwais bin Amir bersama-sama dengan jamaah Yaman, aslinya dari suku Murad, lalu Qaran. Semula ia menderita penyakit belang lalu sembuh kecuali menyisa sebesar dirham, ia punya ibu masih hidup dan ia sangat berbakti kepada ibunya, kalau ia berkemauan sesuatu oleh Allah pasti dipenuhi, seandainya kau mampu suruhlah ia beristighfar untukmu dan jangan kau lewatkan. Kemudian Umar berkata : "Bacalah istighfar bagiku". Lalu Uwais beristighfar kepada Allah memohonkan ampun bagi Umar. Selanjutnya Umar bertanya: "Hendak kemana anda seterusnya? Jawabnya: "Ke Kufah. Kata Umar pula: "Ketahuilah Uwais, aku akan menulis surat demi meringankan beban perjalananmu kepada walikota di sana? Terima kasih Umar, aku lebih leluasa menjadi rakyat biasa tanpa identitas. Alkisah, setahun kemudian, datanglah seorang tokoh terkemuka dari Kufah menunaikan ibadah haji dan berkunjung kepada Umar, lalu Umar menanyakan tentang keadaan Uwais, jawab tokoh itu : "Kutinggalkan ia compang-camping hidup sederhana. Akhirnya Umar mengulangi kembali cerita yang pernah didengar dari Rasul Saw. tersebut di atas, tentang diri Uwais. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tokoh Kufah tersebut sengaja menemui Uwais, serunya: "Hai Uwais, sudilah kiranya anda beristighfar memohon ampun untukku, jawabnya: "Bukankah engkau yang lebih patut memohonkan ampun bagiku, sebab engkau baru saja datang dari bepergian dan menunaikan ibadah? Maka Uwais beristighfar kepada Allah untuknya. Akhirnya sesudah itu populerlah nama Uwais di daerah itu, dan seketika itu pula Uwais menyingkir dari khalayak ramai, agar maksud tujuannya tiada terganggu". (HR. Muslim).

🙏

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 10)