Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


BAB MEMULYAKAN PARA ULAMA DAN TOKOH BERJASA.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Firman Allah :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَايَعْلَمُوْنَ، اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوالْاَلْبَابِ.

Artinya: ”Katakanlah, adakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan mereka yang tiada berilmu pengetahuan? Tentu berbeda jauh, bahwasanya yang mau menerima peringatan itulah orang-orang yang berakal ”. ( QS. Az-Zumar: 9).

1. Dari Uqbah bin Amr, Rasul Saw. bersabda :

يَؤُمُالْقَوْمَ اَقْرَءُهُمْ لِكِتَابِ آللّٰهِ، فَاِنْ كَانُوْافِى اْلقِرَاءَةِ سَوَاءًفَاعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَاِنْ كَانُوْا فِى الْسُّنَّةِ سَوَاءً فَاَقْدَمُهُمْ سِنًّا وَلَايَؤُمَنَّ الرَّجُلُ فِى سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدُ فِى بَيْتِهِ عَلٰى تَكْرِمَتِهِ اِلَّا بِا ِٕذْنِهِ .

Artinya: ”Yang patut menjadi imam/pimpinan masyarakat yaitu yang pandai tentang kitab Allah (Al-Quran), dan jika mereka sejajar kepandaian tentang itu, maka pilihlah yang lebih menguasai tentang sunah Rasul, dan jika dalam hal itu juga sejajar, maka pilihlah yang paling dulu berhijrah (dari maksiat menuju ketakwaan), dan jika dalam hal itu juga sama, maka pilihlah yang paling lanjut usianya. Dan janganlah menjadi imam di daerah pengaruh lain orang, kecuali atas perkenannya, dan janganlah menduduki singgasana yang terhormat, kecuali atas perkenannya ". (HR. Muslim).

2. Dari Uqbah bin Amr, katanya:

كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ يَهْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِى الصَّلَاةِ وَيَقُوْلُ: اِسْتَوُا وَلَا تَخْتَلِفُوْا فَتَحْتَلِفَ قُلُوْ بُكُمْ، لِيَلِنِيْ مِنْكُمْ اُولُوالْاَنْلَامِ وَالنُّهٰى، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

Artinya: ”Rasul Saw. sudah biasa sewaktu akan shalat meratakan bahu-bahu kami seraya bersabda: ”Hendaklah kalian ratakan, jangan ada yang menonjol/berselisih, nanti kalian jadi berselisih, mendekatlah kepadaku yang dewasa dan yang pandai-pandai, lalu yang dibawahnya dan kemudian yang dibawahnya lagi”. (HR. Muslim)

3. Dari Ibnu Mas'ud. Rasul Saw. bersabda: ”Hendaklah orang-orang yang dewasa dan yang pandai mendekatku, kemudian yang dibawahnya diulang 3x, Hati-hatilah, tiada perlu berdesakan seperti mereka yang berbelanja di pasar.” (HR. Muslim).

4. Dari Abu Yahya bin Abu Hasmah, katanya: ”Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas'ud bertolak ke wilayah Khaibar, seusai perang dalam keadaan damai, mereka berdua berpisah. Kemudian sewaktu Muhayyishah mengunjugi tempat Abdullah bin Sahl, sesosok mayat berlumuran darah ia temukan, dan secepatnya mayat itu dimakamkan, lalu mereka bertugas dengan segera menyampaikannya kepada Rasul Saw. di Madinah. Alkisah setelah menghadap Rasul, orang termuda Abdurrahman ketika hendak bicara, tiba-tiba beliau bersabda: ”Mulyakanlah yang besar, biar angkat suara lebih dahulu ” Lalu Abdurrahman mengurungkan maksudnya, mempersilahkan Muhayyishah dan Huwayyishah yang keduanya lebih tua umurnya, untuk berbicara. Kemudian sehabis menerima khabar tentang mayat tersebut, beliau Saw. bersabda: ”Kalian berani angkat sumpah, yang nantinya patut menerima tebusan bagi mayat tersebut ”. (HR. Bukhari-Muslim).

5. Dari Jabir: ”Bahwasanya Nabi Saw. menghimpun dua mayat pejuang yang tewas di tengah medan laga (perang) Uhud dalam satu liang, sabdanya: ”Pilihlah mana yang lebih pandai Al Qur'an, itulah yang patut di masukkan lebih dahulu ke dalam liang lahat. (HR. Bukhari).

6. Dari Ibnu Umar, Nabi Saw, bersabda: ”Aku bermimpi menggosok gigi, lalu dua orang pria menghampiriku, dan kuserahkan siwak/alat penggosok gigi itu kepada yang muda, tiba-tiba ada yang memprotes tentang penyerahanku itu, akhirnya kuserahkan yang lebih tua dari mereka berdua ”. (HR. Bukhari Muslim).

7. Dari Abu Musa, Rasul Saw. bersabda: ”Bahwasanya setengah dari sikap mengagungkan Allah yaitu: ”Memulyakan orang Islam tertua, dan penghafal Al Qur'an yang tiada berbangga, perhatiannya tetap tertuju padanya. Dan memulyakan para pejabat yang adil bijaksana ”. (HR. Abu Daud).

8. Dari ayah dan eyang Amr bin Syu'aib. Rasul Saw. bersabda:

لَيْسَ مِنَّـامَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَـا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيْرِنَـا.

Artinya: ”Tiada tergolong dari umatku, manusia yang tiada rasa belas kasihan kepada mereka yang lebih muda dan tiada rasa segan/hormat kepada mereka yang diatasnya”. ( HR. Abu Daud Tirmidzi).

9. Dari Maimun: ”Aisyah pernah didatangi seorang pengemis, ia memberi sepotong roti kepadanya. Lalu berikutnya datang lagi seorang pengemis sedikit berakhlak mulia, lalu Aisyah mempersilahkan duduk dan menghormati dengan jamuan makan kepadanya. Dan ketika mendapat protes tentang hal itu, jawabnya: ”Sikap dan tindakanku ini berdasarkan sabda Rasul Saw. demikian:

اَنْزِلُوا النَّـاسَ مَنَـازِ لَـهُُـمْ.

Artinya: ”Pandai-pandailah kamu bergaul dengan masyarakat, nyatakanlah penghargaanmu kepada mereka sesuai tingkat akhlak/ketakwaan masing-masing ”. (Abu Daud).

10. Dari Ibnu Abbas: ”Uyainah bin Hishn berkunjung ke Madinah, ia menumpang di rumah keponakannya yakni Al-Hurr bin Qais salah seorang anggota Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Karena untuk para anggota tersebut, sengaja pemerintah menyeleksi cerdik pandai dalam bidang pengetahuan Al Qur'an baik dari generasi muda ataupun tua. Uyainah ingin menghadap khalifah, Hendak menyalurkan isi hatinya lewat Al-Hurr (maksudnya ingin diantar oleh keponakannya) itu. Setelah menghadap Umar, tiba-tiba Uyainah berkata: ”Hai Umar bin Khattab, demi Allah engkau adalah seorang khalifah yang kurang mampu mengendalikan roda pemerintahan terutama dalam bidang pemerataan ekonomi dan pelayanan hukum”. Bagaikan disambar petir disiang bolong, memuncaklah emosi Umar, ia marah hampir menghajarnya, namun cepat-cepat Al-Hurr sebagai anggota MPR. yang cerdik pandai dalam Al Qur'an mengingatkan Umar, katanya: ”Hai Amir masyarakat mukmin, sudilah anda meninjau kembali firman Allah Al-Araf 199 yang disampaikan kepada Nabi-Nya Saw.: padahal dia itu tergolong anggota masyarakat yang berpendidikan, masih dungu. Demi Allah Umar menyadari sepenuhnya tentang isi ayat tersebut sebagaimana perhatiannya terhadap ayat-ayat Al Qur'an lainnya. (HR. Bukhari).

Inilah ayatnya:

خُذِ اْلعَفْوَ وَأْمُرْبِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ اْلجَـاهِلِيْنَ.

Artinya: ”Berilah maaf dan suruhlah ia mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari masyarakat yang dungu ”. (QS. Al-Araf : 199).

11. Dari Sumurah bin Jundup: ”Sungguh aku masih remaja di zaman Rasul dulu, banyak ajaran beliau yang kuhafal, dan tiada yang mengekang aku bicara, kecuali mereka yang usianya di atasku masih banyak di sini”. (HR. Bukhari-Muslim).

12. Dari Anas, Rasul Saw. bersabda:

مَـااَكْرَمَ شَـابٌّ شَيْخًالِسِنِّهِ اِلَّاقَيِّضَ اللّٰهُ لَهُ مَنْ يُكْرِمُهُ عِنْدَ سِنِّهِ.

Artinya: ”Tiada seorang pemuda memulyakan orang yang usianya lebih tua, kecuali Allah akan membalasnya dengan penghormatan setimpal, nanti di saat ia menginjak lanjut usia ”. (HR. Turmudzi).

🙏