Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Keunggulan orang fakir Islam ...



BAB KEUNGGULAN ORANG FAKIR BERAGAMA ISLAM.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Firman Allah:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِـالْغَدَاةِ وَاْلعَشِىِّ يُرِيــْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَـاكُ عَنْهُمْ .

Artinya: ”Tabahkanlah hatimu bergaul dengan orang-orang yang menyembah Tuhan di pagi dan petang hari, mereka semata mengharap keridhaan Allah, dan janganlah kau palingkan pandangan dari mereka, akibat terpukau oleh perhiasan hidup di dunia.” (Al Kahfi : 28).

Dari Harits bin Wahb, Rasul Saw., bersabda:

اَلاَ اُخْبِرُكُمْ بِـاَه‍ْلِ اْلجَنَّةِ ؟ كُلُّ ضَعِيْفٍ مُتَضَعَّفٍ لَوْ اَقْسَمَ عَلَى اللّٰهِ لَأَبَرَّهُ ، اَلاَاُخْبِرُكُمْ بِـاَه‍ْل النَّـارِ ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ (متفقٌ عليْه)

Artinya: ”Maukah kutunjukkan penghuni surga? Jawab beliau sendiri; ”Yaitu mereka yang merendahkan diri dan dianggap kecil bagi pandangan masyarakat pada umumnya, padahal jika mereka memohon sesuatu kepada Allah, pasti dikabulkan permohonannya. Dan maukah kutunjukkan penghuni neraka? Dijawab beliau sendiri; ”Yaitu setiap orang yang keras kepala/keras hati, bertabi'at kasar dan sombong.” (HR. Bukhari).

Bertabi'at kasar: yakni pilih-pilih kawan bergaul, yang dianggapnya sejajar derajat/tarap hidupnya dengan mereka.

Dari Sahl bin Sa'ad; ”Seorang pria lewat di depan Nabi Saw., yang duduk-duduk bersama para sahabat di majelisnya, lalu beliau bertanya kepada sahabat di sisinya: ”Kau tahu pasti tentang orang itu? Jawabnya: ”Dia adalah seorang ningrat yang disegani di mata umumnya masyarakat, sungguh jika ia meminang seorang gadis/wanita besar harapan diterimanya, atau jika ia mengajukan usul untuk orang lain tentang sesuatu hal, pasti diterimanya. Beliau Saw., dengan tenangnya memperhatikan jawaban sahabat tadi. Tidak jauh sesudah itu, lewat pula seorang pria lain, dan Rasul bertanya: ”Kau tahu pasti tentang orang ini? Jawab sahabat di sisinya: ”orang ini sangat miskin, pantaslah berulang kali meminang seorang gadis/wanita misalnya selalu ditolak, apalagi untuk membantu keperluan orang lain, jelas tiada perhatian/tanggapan positif dari umumnya masyarakat. Kemudian Rasul Saw. bersabda: ”Orang ini lebih baik dan berharga dibandingkan dengan bumi sepenuh isinya termasuk orang pertama yang lewat tadi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Sa'id Al Hudri; ”Nabi Saw., bersabda; ”Surga dan neraka mengadakan diskusi/dialog seru, sebagai pembawa pemrasaran adalah neraka, dengan bangga ia memajukan pokok/point gagasannya; ”Di dalam tubuh kawasanku tidak sedikit para tokoh/pembesar yang berkaliber internasional yang memegang kekuasaan penuh kesombongan, belum lagi tokoh-tokoh sombong teri lainnya.” Demikian pula surga sebagai pembanding utama berkata; ”Di dalam wilayahkupun tidak jarang orang-orang yang dianggap lemah dan hina menurut penilaian masyarakat dunia pada umumnya, mereka tabah dan sabar menghadapi kemiskinan dalam hidupnya.” Maka sebagai hakim moderator Allah memutuskan dialog mereka berdua dengan Firman-Nya kepada surga: ”Hai surga, sungguh kau adalah tempat rahmat_Ku, Aku mengasihi denganmu orang-orang yang Ku_kehendaki.” Dan kau hai neraka adalah tempat siksa-Ku, Aku menyiksa denganmu orang-orang yang Ku_kehendaki, untuk itu bagi kalian berdua masing-masing Ku_penuhi isinya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

اِنَـهُ لَـيَـأْتِى الْرَّجُلُ اْلعَظِيْمُ السَّمِيٍنُ يَوْمَ اْلقِـيََامَةِ لَايَزِنُ عِـنْدَاللّٰهِ جَنَـاحَ بَعَوْضَتٍـ (مُتَّفَقٌ عَلَيْه)

Artinya : Bahwasanya seorang pria berbadan besar lagi gemuk, kedatangannya di hari kiamat sungguh-sungguh tiada arti/nilainya di sisi Allah, walau sekecil nilai sayap nyamuk.” (HR. Bukhari- Muslim).

Ketahuilah hai masyarakat dunia, bahwa kelak di hari kiamat manusia yang punya arti/nilai, adalah manusia yang beriman dan beramal, lain tidak.

Dari Abu Hurairah: ”Bahwasanya seorang wanita berkulit hitam, seorang karyawan mesjid bagian ngepel/menyapu lantai, sejak beberapa hari tiada kelihatan Batang hidungnya, sewaktu Rasul Saw., menanyakan perihal wanita itu, dijawab oleh para sahabat, bahwa ia sudah meninggal. Beliau sedikit terperanjat, sabdanya; ”Kenapa kalian diam saja, tidak menyampaikan berita kematiannya kepadaku? Sekarang antarkanlah aku kemakamnya! Lalu mereka menunjukkan di mana ia dimakamkan, dan sesampainya di sana Rasul Saw. shalat jenazah kepadanya. Kemudian sabdanya; ”

اِنَّ ه‍ٰذِهِ اْلقُبُوْرَ مَمْـلُوْءَةٌ ظُلْمَتً عَلٰى اَه‍ْلٍهَـا وَاِنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى يُنَوِّ رُه‍َالَهُـمْ بِصَلَاتِى عَلَيْهِمْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya : ”Sungguh para penghuni makam kubur ini semula penuh kegelapan, dan sekarang Allah berkenan menyinari kepada mereka.”

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

رُبَّ اَشْعَثَ اَغْبَرَ مَدْ فَوْعٍ بِالْاَبْوَابِ لَوْاَقْسَمَ عَلَى اللّٰهِ لَابَرَّهُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya : ”Tidak sedikit orang yang dianggap hina di mata masyarakat, karena rambutnya berdebu, terurai tidak terurus, bahkan tertolak dari setiap pintu rumah orang, namun kalau ia memohon kepada Allah do'anya pasti dikabulkan.” (HR. Muslim)

Dari Usamah, Nabi Saw bersabda:

قُمْتُ عَلٰى بـَابِ اْلجَـنَّـةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا اْلمَسَـاكِيْنَ ، وَاَصْحَـابَ اْلجَـنَّـةِ مَحْـبُوْسُوْنَ غَيْرَ اَنَّ اَصْـابَ الـنَّـارِ قَدْ اُسِرَ فَإِذَا عَامَّـةُ مَنْ دَخَلَهَـا الـنِّسـَاءُ. (متفق عليه)

Artinya : ”Aku tegak di depan pintu surga, ternyata yang masuk surga pada umumnya masyarakat miskin, berpenghasilan rendah, sedangkan masyarakat berpenghasilan tinggi, berkecukupan dan kaya, justru tertahan oleh harta kekayaannya yang harus dihitung lebih dahulu. Dan para penghuni neraka sudah digiring masuk kedalamnya. Lain lagi ketika aku tegak di dekat pintu neraka, ternyata yang masuk ke dalamnya kebanyakan kaum hawa/wanita.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw., bersabda: ”Tiada yang mampu berbicara di dalam gendongan seorang ibu, kecuali tiga anak balita, yaitu: Isa anak Maryam, dan anak yang menjadi saksi Juraij. Siapa itu Juraij? Juraij adalah seorang muslim yang aktif beribadah di tempat peribadatannya, melaksanakan seruan agamanya. Alkisah, pada suatu hari tengah melakukan shalat, ibunya datang mengunjungi anak yang sejak lama ia rindukan, ia ingin melepaskan rindu kepada anaknya dengan curahan kasih sayang. Namun sewaktu ibunya memanggil, Juraij tidak segara memenuhi panggilan itu, katanya; ”Ya Tuhan, ibuku memanggilku dan aku tengah melakukan shalat.” Maka ia lanjutkan shalatnya, sehingga ibunya pergi tak tahan menunggunya, ia pulang dengan hati kecewa. Keesokan harinya ibunya datang lagi, dan ia tengah shalat, sehingga tidak sempat menghormatinya. Kemudian untuk ketiga kalinya ia datang, dan Juraij tengah shalat, serunya: ”Hai Juraij, namun Juraij tidak segara memenuhi panggilan itu, katanya seperti di atas; ”Ya Tuhan, ibuku memanggilku dan aku tengah melakukan shalat.” Akhirnya ibu itu marah, kata do'anya; ”Ya Allah, jangan Kau habisi nyawanya sebelum ia memandang paras wanita tuna susila.” Kemudian populerlah di kalangan masyarakat Bani Israil, keaktifan dan ketekunan Juraij dalam beribadah, sehingga merangsang minat seorang wanita tuna susila yang berkelas tinggi, dan populer kecantikannya, untuk menggoda Juraij, katanya: ”Jika kalian menghendaki, aku sanggup mencemarkan dia, dan memalingkan dari ibadahnya.” Maka mulailah wanita itu mengalihkan perhatian Juraij dengan rayuan gombal, ia berusaha dengan berbagai cara yang dapat membuat ia terpesona dan terjerumus dalam jurang kehinaan bersa-sama dengannya.” Namun sia-sialah upaya dan usahanya, karena Juraij tetap teguh dalam pendirian dan imannya, ia tidak terpengaruh sedikitpun oleh wajah ayu ataupun paras yang cantik yang bukan miliknya (belum ada ikatan nikah secara sah). Akhirnya wanita itu putus asa, dan ia berusaha mencemarkan nama baik Juraij karena jengkelnya, lewat seorang pemuda penggembala hewan ternak, ia memadu cinta dengan pemuda penggembala tersebut dan terjadilah perzinahan diantara mereka berdua sebelum menikah di suatu tempat yang tidak jauh dari tempat suci peribadatan Juraij. Alkisah, dari hubungan gelap antara wanita tuna susila dengan seorang pemuda penggembala di dekat tempat suci itu, lahirlah seorang anak, yang kemudian dikatakan oleh wanita itu; ”Inilah anak hasil hubungan gelapku dengan Juraij ”, dengan spontan masyarakat menanggapi secara positif atas pengakuan wanita itu, mereka tidak pikir panjang, menyeret dan menganiaya Juraij dengan pukulan yang bertubi-tubi, sebelum mengajukan ke sidang pengadilan, dan sesudah memporak porandakan tempat suci peribadatannya.

Ketika Juraij bertanya; ”Kenapa kalian berbuat demikian kepadaku? Jawab mereka; ”Kau telah berzina dengan wanita tuna susila, lihatlah buktinya yakni anak bayi dari spermamu! Sahutnya; ”Mana anak bayi itu sekarang? Dan setelah berada di depannya, Juraij shalat, sehabis shalat ia mendekati anak bayi dan menekan perut bayi dengan jarinya, katanya; ”Hai anak kecil, siapa sebenarnya ayahmu itu? Jawabnya si anu, itulah penggembala hewan ternak. Sesudah nyata kebenaran Juraij lewat informasi anak bayi itu, kemudian masyarakat mengelu-elukan Juraij, mereka mencium dan memeluknya, kata mereka; ”Maukah Anda, jika tempat peribadatanmu kubangun kembali dengan emas? Jawabnya; ”Tidak usahlah, cukup seperti semula saja. Maka secepatnya mereka memperbaiki tempat peribadatan Juraij yang mereka robohkan itu.

Dan ketiga, yaitu seorang anak kecil sewaktu menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lewatlah seorang pria berkendaraan bagus, kata ibunya; ”Ya Allah, mudah-mudahan anakku nanti kalau sudah dewasa, jadikanlah seperti orang berkendaraan bagus dan mewah itu. Spontan/secara replek anak kecil yang tengah menyusu itu, melepaskan susunya dan melihat orang itu, seraya berkata; ”Ya Allah, jangan kau jadikan aku seperti orang itu, lalu ia melanjutkan minum susunya. Dan lama sesudah itu terjadilah peristiwa mengharukan, yakni seorang buruh dipukuli majikannya, kata majikan itu; ”Keparat, kau pencuri, tak tahu budi, sedang buruh itu hanya dapat mengucapkan kalimat;

حَـــسْــبِــيَ اللّٰه وَنِــعْــمَ الْـوَکِــيْـلُ ُ

HASBIYALLAH, WANI'MAL WAKIIL.

Artinya : ”Allahlah yang mencukupiku, dan sebaik-baik yang kuwakili untuk menjaga.”

Maka ibu anak itu berkata; ”Ya Allah, jangan Kau jadikan anakku seperti orang itu. Lalu anak kecil itu melepaskan minum susunya dan melihat orang yang tengah dianiaya itu, katanya; ”Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.” Heranlah ibunya, dan ia bertanya kenapa terjadi paradok/berbeda antara do'anya denganmu? Jawabnya; ”Seorang pria berkendaraan bagus mewah itu, bertabi'at buruk, keras dan kejam, sedangkan buruh yang dipukuli dan dituduh pencuri dan zina itu, sebetulnya tidak demikian, ia orang baik-baik, itulah sebabnya aku memohon dijadikan seperti dia.” (HR. Bukhari-Muslim).

🙏