Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Perintah membentengi ....



PERINTAH MEMBENTENGI AMALAN SUNNAH DAN ADABNYA.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an yang menyerukannya, diantaranya yaitu :

وَمَــااَتَــاکُمُ الْرَّسُـوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَـانَـهَاکُمْ عَـنْـهُ فَـانْتَـهُـوْا (الحشر ٧)

Artinya : ”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu berupa seruan/perintah/anjuran maka ambillah, dan apa-apa yang dilarang melakukannya hendaklah kamu hindarkan.” (Al Hasyr 7)

وَمَـايَنْطِقُ عَنِ اْلـهَوٰى اِنْ ه‍ُوَاِلاَّوَحْىٌ يُوْحٰى (النّجم : ٣-٤)

Artinya : ”Rasul Saw. tiadalah berbicara menurut hawa nafsunya, tiada lain Ia (Al Qur'an), merupakan wahyu yang disampaikan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

قُلْ اِنْ کُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِيْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ (ال عمران: ٣١).

Artinya : ”Katakanlah, jika kamu menyintai Allah, maka ikutilah aku, pasti Allah menyintaimu dan mengampuni dosamu.” (Ali Imran: 31).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَـنَــةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْاللّٰهَ وَاْليَوْمَ اْلاٰخِرَ (الاحزاب : ٢١).

Artinya : ”Sungguh pada diri Rasul Allah (Muhammad) terdapat suri tauladan cukup baik bagimu. Yaitu bagi orang yang mengharap pahala Allah dan keselamatan hari akhir.” (Al Ahzab: 21).

فَلَاوَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُنَ حَتَّى يُحَکِّمُوْكَ فِيْمَـاشَجَرَ بَيْنَهُـمْ ثُمَّ لاَيَجِدُا فِى اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّاقَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْـلِيْمًـا . (النّســاء : ٦٥)

Artinya : ”Tidak, demi Tuhanmu, mereka tiada juga beriman kepadamu, sehingga mereka mengangkatmu menjadi penengah untuk mengurus persengketaan di antara mereka, kemudian hati mereka lega, tidak ada keberatan menerima keputusanmu, dan mereka terima secara bulat.” (An-nisa': 65).

فَاِنْ تَنَـازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ کُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَاْليَوْمِ الْاٰخِرِ (النّسـاء :٥٩)

Artinya : ”Ketika kamu berbantahan dalam suatu perkara, hendaklah perkara/urusan tersebut kau tinjau kembali (cocokan) kepada firman Allah (Al Qur'an) dan sunah Rasul (Al Hadits), jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa: 59).

مَنْ يُطِـعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ (النساء: ٨٠)

Artinya : ”Barangsiapa mentaati agama tuntunan Rasul (Muhammad), sungguh berarti ia telah mentaati Allah.” (An-Nisa: 80).

وَاِنَّكَ لَتَهْـدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ، صِرَطِ اللّٰهِ (الشّورى : ٥٢)

Artinya : ”Sungguh engkau menunjuki ke jalan lurus (dengan mengajarkan agama atau dakwah).” (Asy-Syuura: 52).

فَلْيَحذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهِ اَنْتُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْيُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ (النّور : ٦٣).

Artinya : .....oleh itu, hendaklah takut (hai) orang-orang yang melanggar perintah_Nya, bahwa mereka akan ditimpa fitnah (bala-k), atau ditimpa siksa yang sangat pedih.” (An-Nur : 63).

وَاذْ كُرْنَ مَـايُتْلٰى فِى بُيَوْتِكُنَّ مِنْ اٰيَاتِ اللّٰهِ وَاْلحِکْمَـةِ (الاحزاب: ٣٤)

Artinya : ”Sebutlah apa-apa yang dibacakan di rumahmu (hai para ibu/kaum hawa), yaitu ayat-ayat Allah dan hikmah.” (Al-Ahzab : 34).

1. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda: ”Biarkanlah aku selama aku membiarkan kamu dalam memutuskan sesuatu perkara yang memang disengaja mendiamkannya agar tidak memberatkamu (dalam hal-hal syubhat), sungguh faktor penyebab kebinasaan umat terdahulu sebelummu, akibat terlalu banyak cincong (pertanyaan yang serba ganjil), dan menyalahi para Nabi mereka, maka;

فَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ وَاِذَا اَمَرْتُكُمْ بِاَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَـا استَطَعْتُمْ (متفق عليه)

Artinya : ”Ketika aku melarangmu melakukan sesuatu, hendaklah kamu menghindarinya, dan ketika aku menyuruhmu untuk melakukan sesuatu, hendaklah kamu laksanakan sesuai dengan kemampuanmu.” (HR. Bukhari Muslim)

2. Dari Ibnu Sariyah : ”Suatu nasehat Rasul Saw. yang benar-benar dapat meresap dalam hati sanubari kami, sehingga kami mencucurkan air mata, sahut kami ; ”Ya Rasul, tiada berbeda dengan sebuah nasehat yang disampaikan oleh orang yang akan berpisah meninggalkan kami. Isi nasehatnya :

اُوْصِيْکُمْ بِتَقُوَى آللّٰهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّ عَةِوَاِنْ تَأَمّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ وَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا کَشِيْرًا فَعَلَيْکُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَـاءِ الَٔرَّا شِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ .عَضُّوْا عَلَيْهَـا بِالنَّوَا جِذِ وَاِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَـاَتِ اْلاُمُوْرِ فَاِنَّ کُـلَّ بِدْ عَــةٍ ضَلَا لَةٌ .(رواه ابوداود والمّذى)

Artinya : ”Bertakwalah kalian kepada Allah, jadilah pendengar yang taat, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba Habsyi. Bahwasanya orang yang diberi usia panjang dari antaramu, akan menjumpai adanya pertikaian (golongan) yang banyak jumlahnya. Maka jika telah terjadi hal yang demikian, hendaklah kalian berpegang teguh pada sunah (perjalanan) ku dan sunah para Khalifah terkemuka yang ditunjuki, gigitlah erat-erat dengan grahammu (berpegang kokohlah kamu) kepadanya. Dan hindarilah segala sesuatu yang baru dalam agama (hal-hal yang akan merusak agama), sungguh setiap bid'ah sesat.” (HR. Abu Daud-Turmudzi).

3. Dari Abu Hurairah lagi, Rasulullah Saw. bersabda :

كُلُّ اُمَّتِى يَدْ خُلُوْنَ اْلجَنَّةَ اِلَّا مَنْ اَبٰى، قِيْلَ: وَمَنْ يَأْبٰى يَارَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: مَنْ اَطَاعَنِى دَخَلَ اْلجَنَّـة، وَمَنْ عَصَنِى فَقَـدْ اَبٰى. (رواه البخارى)

Artinya : ”Umatku akan masuk surga seluruhnya, kecuali yang menentang, sahabat bertanya: ”Siapa dia ya Rasul? Jawabnya; ”Orang yang taat kepadaku pasti masuk surga, dan yang melanggar tuntutan agamaku (Bermaksiat), sungguh ia penentangku.” (HR. Bukhari).

4. Dari Abu Muslim, katanya :

اَنَّ رَجُلًا اَكَلَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عليه وسَلم بِثِمَـالِهِ : فَقَـالَ : كُلْ بِيَمِيْنِكَ ، قَـالَ: لاَ اسْتَطَعْتَ، مـَـا مَنَعَهُ اِلاَّ اْلكِبْرُ فَــما رَفَعَهَا اِلٰى فِيْـهِ (رواه مســلم )

Artinya : ”Bahwasanya seorang pria makan di sisi Rasul Saw., menggunakan tangan kirinya, lalu beliau memperingatkan : ”Makanlah dengan tangan kananmu.” Jawabnya : ”Tidak bisa”. Kemudian sabdanya: ”Mudah-mudahan benar-benar tidak bisa kamu, maka sesudah itu, benar-benar pria itu tidak bisa mengangkat tangan ke mulutnya.” (HR. Muslim).

5. Dari Nu'man bin Basyir, Rasul Saw, bersabda :

لَتُسَــوُنَّ صُفُوْ فکُمْ اَوْلِيُخَالِفَنَّ اللّٰهُ بَيْنَ وُجُوْه‍ِکُمْ (متفق عليه)

Artinya : ”Ratakanlah barisan (shalat) mu, ataukah (suka memilih) dirombak bentuk wajahmu oleh Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam suatu riwayat: ”Rasul Saw. sudah biasa meratakan barisan (shalat) kami, seperti layaknya orang meratakan kayu panah, sampai beliau tahu pasti bahwa kami telah memahaminya. Pada suatu hari sewaktu beliau menjelang takbir, terlihatlah seorang pria dadanya menonjol dari barisan, lalu sabdanya, ”Hai hamba Allah, ratakanlah barisanmu, atau kau memilih bentuk wajahmu dirombak oleh Allah?

6. Dari Abu Musa : ”Pada suatu malam di Madinah ada sebuah rumah terbakar, setelah di khabarkan kepada Rasul Saw. lalu beliau bersabda:

اِنَّ ه‍ٰذِهِ آلنَّارَ عَدُوٌ لَکُمْ، فَاِذَا نِمْتُمْ فَاَطْفِوْءُه‍َـا عَنْکُمْ (متفق عليه)

Artinya : ”Bahwasanya api ini (yang menyala) adalah memusuhimu, oleh karena itu, padamkanlah ketika kamu tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Dari Abu Musa, Rasul Saw., bersabda: petunjuk ilmu (agama) yang tugas penyampaiannya dipercayakan kepadaku, adalah diumpamakan seperti air hujan yang turun membasahi bumi. Sedangkan bumi yang subur, bergembira menerimanya, terbukti dengan tumbuhnya tanaman dan rumput-rumput yang hijau. Dan ada bumi kering yang hanya bisa menahannya lalu darinya orang dapat minum dan mengairi tanaman. Namun disamping itu ada juga bumi padas yang keras bagaikan karang laut, Ia tiada kesanggupan menahan atau menumbuhkan apapun. Demikianlah perumpamaan orang yang sama sekali tidak dapat menerima petunjuk dan tuntunan ilmu agama Allah yang tugas penyampaiannya dipercayakan kepadaku.” (HR. Bukhari-Muslim).

8. Dari Jabir, Rasul Saw, bersabda: ”Aku dengan kamu diibaratkan seorang pria tengah menyalakan api, lalu hewan serangga (kupu dan belalang) datang mengerumuninya, dan dia (pria itu) menghalau hewan tersebut supaya menjauhinya. Dan aku selalu berusaha menarikmu dari belakang supaya tidak sampai terjerumus ke dalam api, namun kamu selalu melepaskan diri dari tangan (kemampuan) ku.” (HR. Muslim).

9. Dari Jabir, katanya: Rasul Saw. menyuruh supaya mencuci tangan (sebelum atau sesudah makan) serta piring, dalam sabdanya:

اِنَّکُمْ لاَتَدْ رُوْنَ فِى اَيِّهِـمَـااْلبَرَکَةُ (رواه مسلم)

Artinya : ”Sungguh kamu tiada mengetahui secara pasti letak barakah dari makanan yang kau santap itu.” (HR. Muslim).

Riwayat lain: ”Ketika seseorang makan, lalu sebagian jatuh tercecer, maka hendaklah diambil lalu dibersihkan dan dimakan, jangan biarkan ia dilalap syetan. Dan tiada perlunya terburu-buru mengusap (ngelapi) tangan dengan sapu tangan, sebelum makanan tersebut bersih dari tangannya. Karena ia tiada mengetahui secara pasti di bagian mana makanan itu mengandung barakah.” (HR. Muslim).

Riwayat lain: ”Bahwasanya syetan selalu membarengimu dalam segala urusan, termasuk urusan santap makanan, untuk itu sewaktu makanan jatuh, jangan biarkan olehmu, hendaklah kau bersihkan dan kau makan, jangan sampai syetan melahapnya.” (HR. Muslim.

10. Dari Ibnu Abbas, Rasul Saw. tegak di hadapan kami, seraya menyampaikan nasehatnya; ”Hai masyarakat dunia, ketahuilah bahwa kelak di hari kemudian kalian dihimpun, dihadapkan kepada Allah Swt. dalam keadaan telanjang bulat, tiada secarikpun kain penutup bagimu, dan kanak-kanak tak bersunat. Beliau mensitir Firman Allah:

کَمَا بَدَأْنَآ اَوّلَ خَلْقٍ نُعِيْدُ وَعْدًا عَلَيْنَا اِنَّاکُنَّا فَاعِلِيْنَ . (الانبياء : ١٠٤)

Artinya: ”Sebagaimana Kami mulai pertama menciptakan makhluk, demikian pula Kami mengulanginya. Itulah janji Kami. Sungguh, pasti Kami perbuatnya.” (QS. Al Ambiya: 104).

Ketahuilah, bahwa manusia pertama yang bisa memakai pakaian kelak di hari kiamat adalah Nabi Ibrahim, dan ketahui pula bahwa ada sekelompok manusia dari umatku digiring ke jurang sial sisi kiri, lalu aku memprotes. Lalu dijawab: ”Sungguh engkau tiada mengetahui secara pasti, apa yang mereka perbuat sepeninggalmu (Hai Muhammad). Lalu aku menirukan ungkapan Nabi Isa dalam Al Qur'an, Firman Allah:

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ فَلَمَّا تَوَفًَيْتَنِىْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيْدٌ، اِنْ تُعَذِّبُهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تُغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ اَنْتَ اْلعَزِيْزُ اْلحَکِيْمُ .

Artinya: ”....dan aku sebagai saksi mereka sepanjang hidupku bersama mereka, Ketika Engkau wafatkan aku Engkau mengawasi mereka, Engkau sebagai setiap sesuatu. Kalau Engkau binasakan mereka, bahwasanya mereka itu hamba_Mu (terserah kepada_Mu), dan kalau Engkau ampuni mereka, sungguh Engkau Perkasa lagi Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 177 - 178)

Kemudian aku diberitahu, bahwa mereka itu adalah orang-orang murtad, yang kembali menentang pelaksanaan Islam, sejak kau pisahkan mereka.” (HR. Bukhari-Muslim)

🙏

"Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang yang berkhianat," (QS. An-Nisa' 4: Ayat 105)