MENGUASAI DIRI/MUJAHADAH (2).

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda :
حُجِبَتِ الـنَّــارُ بِالشَّهَوَاتِ ، وَحُجِبَتِ اْلجَـنَّـةُ بِـالْمَــكَارِهِ (متفق عليه)
Artinya: ”(Pintu) neraka ditutupi dengan aneka keinginan nafsu seseorang, dan pintu akan membuka/terbuka bagi yang Melampiaskan keinginan nafsunya di luar ketentuan/batas Islam. Dan surga ditutupi dengan segala bentuk kebencian nafsu seseorang dalam menjalankan takwa, dalam mematuhi hukum dan melaksanakan ajaran Islam, dan pintu surga itu tidak dapat dibuka, kecuali dengan mujahadah yakni menyingkirkan segala bentuk kebencian nafsu tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim).
Disebutkan dengan lafadh; ”HUFFAT diliputi dengan aneka segala bentuk……” sebagai pengganti lafadh; ”HUJIBAT= ditutupi dengan....” . (HR. MUSLIM).
Dari Hudzaifah : ”Di suatu malam aku shalat bersama Rasul Saw., sesudah Al Fatihah beliau membaca surat Al Baqarah, hingga ayat ke 100 aku mengira akan segera turun ruku', ternyata dibaca terus sampai habis surat. Dan aku mengira satu surat Al Baqarah itu untuk rakaat pertama, ternyata setelah habis satu surat itu, dilanjutkan dengan surat An-Nisa k sampai habis. Dan disambung lagi dengan surat Ali Imran sampai habis, lagi pula semua itu dibaca pelan/secara tartil diikuti tadabbur (memikirkan arti maksud setiap ayat, hal ini terbukti pada setiap ayat tasbih maka beliau membaca tasbih, pada setiap ayat ta'awudz, maka beliau membaca ta'awudz dan seterusnya), baru beliau turun ruku' sesudah selesai membaca itu semua, seraya membaca do'anya ruku' sama panjangnya dengan waktu beliau tegak baca Al Fatihah berikut surat Al Qur'an tersebut diatas. Demikian pula ketika beliau i'tidal (bangun dari ruku') dan sujud seraya membaca do'a masing-masing panjangnya hampir menyamai dengan waktu beliau tegak berdiri.” (HR. Muslim).
Dari Ibnu Mas'ud : ”Di suatu malam, aku shalat bersama Nabi Saw. dan lama sekali berdirinya, sampai aku hampir punya niatan tidak baik. Sewaktu ditanya : ”Niat apakah darimu itu? Jawabku : ”Hampir saja aku duduk dan meninggalkannya.” (HR. Bukhari - Muslim)
Dalam dua hadits tersebut, terlukislah keimanan membaja bagi pribadi seseorang, nafsu masyarakat umum menganggap hal demikian (beribadah dengan waktu panjang) suatu pemerkosaan hak manusia, memaksa diri tiada perhitungan dan lain-lain cemoohan dengan argumentasi yang dibuat-buat sekehendak nafsunya.
Namun hal ini bagi pelakunya bahkan dirasakan suatu ni'mat terbesar tiada bandingannya, apalagi jika dibandingkan dengan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara tiada berarti. Itulah yang dikenal dengan halawatul iman merasakan kelezatan taat-beribadah kepada Allah Swt.
Dari Anas, Rasulullah Saw. bersabda :
يَتْبَعُ اْلمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ : اَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ اِثْنَانِ وَيَبْقَى عَمَلُهُ. (متفق عليه).
Artinya : ”Tiga perkara/orang yang mengikuti mayit, yaitu: ”Keluarga harta dan amal. Lalu yang dua kembali ke rumah yakni; keluarga dan harta, dan yang tetap setia mendampinginya satu, yakni; ”amalnya”. (HR. Bukhari- Muslim).
Dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah Saw. bersabda :
اَلْجََنَّةُ اَقْرَبُ اِلٰى اَحَدِکِمْ مِنْ شِرَاكِ نَـعْـلِهِ ، وَالـنَّـارُ مِثْلُ ذٰلِكَ (رواه البخاري)
Artinya : ”Surga sangat dekat pada seseorang daripada tali sandalnya (jika mau memperbanyak amal dan sungguh-sungguh bertakwa), demikian pula neraka (bagi yang menyalahi Islam).” (HR. Bukhari).
Dari Ibnu Ka'ab Aslami: ”Aku bermalam bersama Rasul Saw. disediakan air untuk beliau, yakni buat air wudhu dan hajatnya. Lalu sabdanya : ”mintalah kamu padaku! Jawabku: ”Aku minta berkawan denganmu di surga. Sabdanya pula: ”Tiada lagi permintaan selain itu? Jawabku: ”Ya itu saja cukup bagiku. Kemudian sabdanya: ”Bantulah aku dalam menguasai nafsumu dengan memperbanyak shalat.” (HR. Muslim).
Dari Abu Abdillah Tsauban, Rasul Saw. bersabda:
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ ، فَاِنَّكَ لَنْ تَسْجُدَلِلّٰهِ سَجْدَةً اِلاَّرَفْعَكَ اللّٰهُ بِهَا دَرَجَةً ، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْــَٔةً (رواه مسلم)
Artinya : ”Hendaklah kamu memperbanyak sujud/shalat, karena dengan sekali sujud, naiklah derajatmu satu tingkat dan lenyaplah satu dosa darimu.” (HR. Muslim).
Dari Abu Shafwan, Rasulullah Saw. bersabda :
خَيْرُا لـنَّـاسِ مَنْ طَالَ عُمْـرُهُ وَحَسُنَ عَمَـلُهُ . (رَوَاهُ التُّرْمُذِىُّ)
Artinya : ”Anggota masyarakat terbaik, yaitu orang yang berusia panjang dan baik amal perbuatannya.” (HR. Turmudzi).
Dari Anas Malik, ”Pamanku Anas bin Nadlr absen/tidak ikut perang Badar, ia menyesal dan melaporkan diri: ”Ya Rasul, aku tidak dapat ikut dalam perang pertama melawan kafir musyrik, dan untuk menebus penyesalanku, maka aku berjanji jika Allah menakdirkan akan mengikuti suatu perang melawan kafir musyrikin, nanti Dialah sebagai saksi pertama dan utama dalam perjuanganku. Terbukti dengan pernyataannya sewaktu umumnya orang Islam meninggalkan benteng pertahanan di perang Uhud, Anas bin Nadr berdo'a : ”Ya Allah, maafkanlah kelicikan kawan-kawanku yang melarikan diri itu, Ya Allah aku terbebas dari perbuatan kafir musyrikin. Lalu ia maju menerobos pertahanan musuh, dan sewaktu berpapasan dengan Sa'ad bin Mu'adz, katanya: ”Hai Sa'ad, demi penguasa Ka'bah, aku mencium bau surga di sebelah Uhud. Kata Sa'ad: ”Tiada kemampuan bagiku ya Rasul terhadap apa yang ia perbuat. Kata Anas bin Malik: Seusai perang Uhud, kami temukan ia sudah dibunuh dan dicincang oleh kafir musyrikin, itupun tidak kurang dari 80 luka tikaman pedang/tombak dan panah, hampir tiada yang mengetahui kerangka tubuhnya, kecuali keluarga yang tahu pasti tentang jari-jarinya. Sahut Anas bin Malik pula: ”Kami para sahabat meyakinkan bahwa ayat (di bawah) ini, diturunkan berkenaan dengan para satria/pahlawan Uhud sejenis Anas bin Nadr. (HR. Bukhari - Muslim)
مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَاعَا هَدُوْا اللّٰهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضٰى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا (الاحزاب : ٢٣)
Artinya : ”Diantara orang-orang mukmin terdapat para satria yang konsekwen terhadap janjinya kepada Allah, maka disetengahnya ada yang gugur dan ada pula yang tengah menunggu giliran (mati syahid), dan konsekwen mereka tiada sudi menukarnya dengan suatu apapun (dari kesenangan duniawi). (Al Ahzab: 23).
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 35)
