ISTIQAMAH.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Istiqamah ada yang mengartikan langgeng, mudawamah atau kontinyu dalam melakukan kebaikan, dan di artikan pula dengan tetap teguh di atas kebenaran tiada bengkok. Firman Allah :
فَاسٔتَقِـمْ كَاَاُمِرْتُ {الثورى : ١٥}
"Tetap luruslah kamu, seperti yang telah diserukan kepadamu....." (Asy Syuura: 15)
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْارَبَّنَااللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْ اتَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ اْلْمَلَِٕكَةُ اَلأَّ تَخَافُوْا وَلآتَحْزَنُوْا وَاَبْثِرُوْا بِاْلجَنَّةِالَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ. نَحْنُ اَوْلِيٰٓؤُكُـمْ فِى اْحَيٰوةِ الدُّنْيَــاوَفِى اْلاٰخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مـاتَشْتِهِىْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَـاتَدَّعُوْنَ.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka beristiqamah (berketetapan hati), maka malaikat-malaikat turun kepada mereka (lalu berkata), "Janganlah kamu takut dan Janganlah kamu berdukacita, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan (Allah) kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung kamu di dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang diinginkan dirimu dan kamu memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. Fushshilat :30-31)
اِنَّ الَّذِيْنَ قَلُوْ ارَبُّنَااللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْ افَلَاخَوْفً عَلَيْهِمْ وَلآهُمْ يَحْزَنُوْنَ اُولِٰٕٓـكَ اصْحَبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا جَزَٓاءًبِــمَـا كَانُوْيَعْمَلُوْنَ. (الاحقاف :١٣-١٤)
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, " Tuhan kami ialah Allah ", kemudian mereka istiqamah (berketetapan hati), maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan"
(Al Ahqaaf :13-14)
Adapun hadits-haditsnya, yaitu:
1. Dari Abu Amr: katanya:
قُلْتُ يَـارَسُوْلَ اللّٰهِ: قُلْ لِى فِى اْلْاِسْلَامِ قَوْلاً لاَاَسْـَٔلُ عَنْهُ اَحَدًا غَيْرَكَ، قَالَ : اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسْلم).
"Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu kalimat yang singkat tapi padat tentang Islam, sehingga tidak memerlukan lagi penjelasan dari siapapun kecuali engkau, jawabnya:" Nyatakanlah olehmu " aku beriman kepada Allah ", lalu tetap teguhlah pendirianmu itu." (HR. Muslim).
2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْاوَاعْلَمُوْا اَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ اَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ؟ قَلَ: وَلاَ اَنَا اِلاَّ اَنْ يَتَغَمَّدَ فِىَ اللّٰهُ بِرَحْمَةٍمِنْهُ وَفَضْلٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
"Berlaku sedanglah kamu dan tetapkanlah (mudawamahlah) berbuat kebaikan/beribadah, ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang dapat menyelamatkan diri dengan andalan amal/ibadahnya semata. Para sahabat bertanya:" Apakah engkau juga tidak, ya Rasul? Jawabnya: "Aku pun tidak, kecuali jika Allah meliput aku dengan Rahmat dan karunia-Nya." (HR. Muslim)
Memang logis hadits tersebut diatas, karena ibadah, amal bakti dan ketaatan seseorang, jauh tiada Artinya jika dibandingkan dengan karunia nikmat yang dirasakan oleh manusia itu sendiri, misalnya ada orang umurnya 60 tahun, maka tidak mungkin selama 60 tahun itu ia beribadah kepada Allah, mantapnya paling-paling hanya 20 tahun, itu saja belum tentu seluruhnya diterima atau disertai dengan ketulus-ikhlasan, bahkan mungkin juga mantapnya hanya 0,1%. dari keseluruhan umurnya.
Maka bakti/amal baiknya yang hanya 0,1% itu, seandainya dibuat mengangsur/membayar karunia nikmat Allah yang diberikan kepadanya berupa hitam rambut atau bola matanya saja, belum tentu dapat lunas, apalagi lunas, mendekati lunas saja mungkin jauhnya antara bumi dengan langit, belum lagi karunia nikmat lainnya seperti kulit, lidah, mulut dan lain-lain. Itulah sebabnya seorang ulama besar dalam kata mutiaranya, menyatakan: "Ya Ilaahii lastu Lil firdausi ahlas." Ya Tuhan, tiada pantas bagiku mendaftarkan diri menjadi penghuni surga. "
