Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
BAB IKHLAS DAN NIAT.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Sesuai dengan hikmat tujuan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt., maka seluruh aktivitas/ kegiatannya harus disertai dengan niat beribadah, baik kegiatan yang bersifat duniawi seperti bekerja mencari nafkah, makan minum-tidur dan lain-lain, ataupun kegiatan yang bersifat ukhrawi secara langsung seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain, baik yang berbentuk perbuatan nyata ataupun tidak (lahir dan batin), dan niat atau tujuan itu yang benar-benar tumbuh dari lubuk hati tulus ikhlas yang mencerminkan rasa kesadaran atau menginsafi akan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada sang Pencipta, hal ini bertolak dari Firman Allah:

وَمَا اُمِرُوْا اِلاَّ لِيَعْبُداللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لُهُ الِدِيْنَ حُنَفَـاءَ وَيُقِمُوْا الصَّلَاةَ وَيُؤْ تُوْا الزَّكَاةَ وَذَالِكَ دِيْنُ اْلقَيِمَةِ (البيْنة : ٥)

" Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah, serta mentulus ikhlaskan agama bagi-Nya (beribadah mengharap keridhaan-Nya) sambil cenderung kepada tauhid, dan supaya mereka menegakkan shalat, memberikan zakat dan itulah agama yang lurus (betul )."

لَنْ يَنَـالَ آللّٰهَ لُحُوْ مُهَا وَلاَدِمَـاؤُه‍َا وَلٰكِنْ يَنَـالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ {الحجْ : ٣٧}

Artinya: Daging dan darahnya (kurban) tiada sampai kepada-Nya." (Al Hajj: 37)

قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَـافِى صُدُوْرِکُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ {ال عمران : ٢٩}

Artinya : "Katakanlah, jika kau sembunyikan atau kau nyatakan isi hatimu, pasti Allah mengetahuinya." (Ali Imran: 29)

Juga dari hadits Umar bin Khattab, katanya: "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda :

اِنَّمَااْلاَعْمَالُ بِالِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِکُلِّ امْرِئٍ مَـا نَوٰى.فَمَنْ كَانَنْ ه‍ِجْرَ تُهُ اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ ،وَمَنْ كَانَتْ ه‍ِجْرَتُهُ لِدُنْيــَا يُصِيْبُهَـا اَوِامْرَأَةٍ يَنْکِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلٰى مَـاه‍َـاجَرَ اِلَـيْـهِ.

" Setiap amal perbuatan ditinjau dari segi niat/tujuannya, dan setiap orang (berbuat) terserah pada tujuannya, maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti akan memperoleh keridhaan Allah dan rasul-Nya (pahala berhijrah), dan barang siapa berhijrah dengan tujuan menghimpun harta kekayaan dunia atau mengawini seorang wanita, yang ia sukai, berarti akan sia-sia hijrahnya (tidak berpahala) karena hanya memperoleh harta dan wanita yang dituju. " (HR. bukhari-Muslim)

Dan dari Aisyah, Rasul Saw, bersabda :

يَغْزُوْ جَيْشٌ اْلکَعْبَةَ فَاءِذَا کَانُوْا بِبَيْدَاءَ مِنَ اْلاَرْضِ يُخْسَفُ بِاَوَّلِهِمْ وَاَٰخِرِه‍ِمْ قَالَتْ : قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللّٰهِ کَيْفَ يُخْسَفُ بِاَوَّلِهِمْ وَاٰخِرِه‍ِمْ وَفِيْهِمْ اَسْوَا قُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: يُخْسَفُ بِاَوَّلِهِمْ وَاَٰخِرِ ه‍ِمْ ثُمَّ يُـبْعَثُوْنَ عَلٰى نِيَّاتِهِمْ.

Artinya : "Sepasukan infantri/tempur bermaksud buruk (yakni) akan membinasakan rumah Allah (Ka'bah atau masjid dan tempat-tempat suci peribadatan umat Islam lainnya), Sewaktu mereka menginjak alun-alun/halamannya, lalu dibinasakan semua, baik yang pertama ataupun yang terakhir. Kemudian Aisyah bertanya: " Kenapa dibinasakan semuanya ya Rasulullah, padahal mereka yang tengah berbelanja di pasar tidak ikut campur golongan mereka (pasukan infantri). Jawabnya: "Mereka dibinasakan semua tanpa terkecuali, kemudian dibangkitkan sesuai dengan tujuan masing-masing."

Juga dari Aisyah, Nabi Saw, bersabda : "Tiada hijrah sesudah fath (terbukanya kota Mekkah), tetapi jihad dan niat berhijrah dari suatu daerah kacau ke daerah aman beribadah, tetap ada. Dan ketika seruan jihad memanggilmu, hendaklah bersiap-siap." (HR. Bukhari Muslim).

Dua hadits terakhir tersebut, disamping menetapkan pentingnya peranan niat dalam beramal, juga mewajibkan berhijrah bagi seseorang muslim yang tiada rasa tenteram beribadah melaksanakan ajaran Islam akibat teror/gangguan masyarakat non muslim. Karena jika tiba saatnya para penentang Allah itu dibinasakan, maka seluruh masyarakat kampung tersebut akan binasa tanpa terkecuali, oleh sebab itulah hijrah wajib segera dilaksanakan jauh sebelum siksa Allah turun. Maka dengan demikian perintah hijrah berlaku tetap hingga akhir zaman.

Bagi orang yang belum mampu melakukan kebaikan suatu amalan atau ibadah, misalnya pergi haji atau bersedekah dan mengurangi penderitaan fakir miskin, anak yatim dan lain-lain. Sekalipun tidak dibuktikan dengan perbuatan nyata, maka diberi pahala seimbang dengan mereka yang mampu melaksanakan, karena ia menyimpan niat tujuan yang kuat di dalam hatinya. Demikian pengaruh dan peranan niat dalam suatu amal ibadah.

Dari Anas : " Sekembali dari perang Tabuk Nabi Saw., bersabda: "Sungguh ada suatu kaum yang tertinggal di Madinah, mereka selalu bersama kami melewati kampung atau lembah, namun mereka tidak mampu membuktikan secara nyata, akibat menderita (atau karena) halangan.

Niat yang murni dalam lubuk hati yang sungguh-sungguh ingin beramal atau beribadah, sehingga merasakan/membayangkan beratnya penderitaan perbuatan tersebut, seolah-olah ia ikut merasakan pahitnya, tetapi ia tidak dapat membuktikan secara nyata, akibat adanya halangan/udzur, maka pahalanya sebagaimana orang-orang yang dapat melaksanakan dalam perbuatan nyata.

Demikianlah, dengan niat tujuan yang murni, amal ibadah seseorang akan diterima dan dibalas pahala di sisi Allah, sekalipun dalam perbuatan nyata tidak memuaskan fihak pelakunya (rencana semua gagal).

Dari Abu Hurairah, Rasul Saw. bersabda:

اِنَّ اللّٰهَ تَعَـالٰى لاَيَنْظُرُ اِلٰى اَجْسَــامٍکُمْ وَلاَ اِلٰى صُوَرِكُمْ وَلٰکِنْ يَنْظُرُ اِلٰى قُلُوْبِکُمْ . (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Abbas, Rasul Saw. bersabda: Bahwasanya Allah mencatat kebaikan dan keburukan, lalu menjelaskannya: " Barangsiapa punya niat tujuan suatu perbuatan baik, sekalipun belum dilaksanakan, maka dicatat sepuluh sampai tujuh ratus ganda atau lebih. Dan barangsiapa berniat buruk tetapi tidak sampai dilaksanakan, maka baginya satu kebaikan. Dan jika dilaksanakan maka ditulis satu dosa." (HR. Bukhari-Muslim).

Dengan hadits tersebut, manusia dirangsang supaya dalam perjalanan hidupnya selalu punya niat tujuan baik semata, bukan sebaliknya kebesaran karunia Allah yang ada ini disalah gunakan. Jadi jelasnya manusia didorong memperbanyak kebaikan, bukan kejahatan.

🙏