ANEKA CARA BERBUAT BAIK.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Banyak sekali jalan atau cara kita (umat manusia) berbuat baik, apakah itu yang berkaitan dengan Allah ataupun dengan sesama manusia, namun hendaklah dicatat tiada sedikitpun perbuatan baik yang dapat dinilai baik di sisi Allah, kecuali didasari keimanan dan keislaman seorang pelakunya, tanpa itu jangan harap amal itu diterima/punya arti di sisi-Nya.
Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan tentang hal ini, diantaranya Firman Allah :
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهِ عَلِيْمٌ .
Artinya : "Apa-apa yang kamu perbuat diantara kebaikan, sungguh Allah mengetahuinya."
( Al Baqarah: 215).
فَمَنْ عَمِلَ صَـالِحًـا فَلِنَفْسِــهِ .
Artinya : Barangsiapa berbuat baik, maka keuntungan/pahalanya dirasakan sendiri.... "
(As Sajdah: 46)
Sedangkan hadits-haditsnya yaitu :
Dari Abu Dzar, tanyaku: "Ya Rasul, perbuatan apa yang paling utama? Jawabnya: " Beriman kepada Allah, dan berperang menegakkan agama Allah. Tanyaku lagi: "Membebaskan hamba seperti siapakah yang paling utama? Jawabnya: " Yang tengah disayang majikannya dan paling mahal harganya. "Kalau aku tiada kemampuan melakukannya? Jawabnya: " Bantulah para pengusaha, atau menciptakan lapangan usaha bagi mereka. Lalu kalau aku tiada kemampuan melakukan itu? Jawabnya: "Kekanglah nafsu jahatmu terhadap orang lain, karena berbuat demikian itu merupakan sedekahmu atas diri sendiri." (HR. Bukhari-Muslim )
Dari Abu Dzar lagi, Rasul Saw. bersabda: "Setiap pagi hari ada peluang emas bagi seluruh persendian tubuh untuk bersedekah. Karena setiap tasbih سُبْحَانَ اللّٰهِ yang diucapkan adalah sedekah, setiap tahmid اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ sedekah setiap takbir اَللّٰهُ اَکْبَرْ sedekah dan menggerakkan berbuat baik juga sedekah (Amar ma'ruf) serta mengekang perbuatan mungkar juga sedekah (nahi mungkar), dan mencakup semua itu dengan melakukan shalat Dhuha 2 raka'at." (HR. Muslim).
Dari Abu Dzar pula Nabi Saw. bersabda:
عُرِضَتْ عَلَىَّ اَعُمَالُ اُمَّتِى حَسَنُهَا وَسَيِّــُٔهَافَوَجَدْتُ فِى مَحَاسِنِ اَعْمَا لِهَا اْلاَذٰى يُمَاطُعَنِ الصَّارِيْقِ، وَوَجَدْتُ فِى مُسَوِ اَعْمَا لِهَا النَّخَاعَةَ تَکُوْنُ فِى اْلمَسْجِدِ لاتُدْفَنُ .
Artinya: ”Seluruh perbuatan umatku diperlihatkan kepadaku, baik berupa amal baik ataupun perbuatan jahat. Dari sekian banyak amal baik, ditemukan adanya ”pembersihan sampah/perusuh lalu lintas umum” dan dari sekian banyak kejahatan, ditemukan adanya ”kebodohan para jamaah membiarkan riyak (kotoran) yang melekat di masjid, tidak segera dilenyapkan.” (Hr. Muslim).
Dari Abu Dzar pula: " Segolongan masyarakat yang berpenghasilan rendah mengadu kepada Rasul Saw. kata mereka: "Ya Rasul, masyarakat yang berpenghasilan tinggi/golongan ekonomi kuat, menggondol pahala sebanyak-banyaknya dari shalatnya seperti kami, puasanya seperti kami, juga dari hasil sedekah dengan harta benda mereka yang melimpah ruah. Jawab Rasul Saw,: " Bukankah Allah juga memberi peluang emas kepada kalian dengan bersedekah? Sungguh setiap tasbih, takbir dan tahmid serta tahlil yang kalian ucapkan adalah sedekah, bahkan amar-ma'ruf dan nahi mungkar serta persetubuhan yang kalian lakukan juga termasuk sedekah. Sahut mereka: "Melampiaskan nafsu sex bagi suami istri itu diberi pahala ya Rasul? Jawabnya, : " Coba bagaimana menurut gagasanmu, jika nafsu sex itu disalurkan pada farji wanita lain yang terlarang, tidakkah suatu perbuatan dosa? Hati mereka menjawab: O, ya jelas berdosa, Maka sabda Rasul: "Demikian pula, jika hal itu dilampiaskan pada farji istrinya yang halal, pasti memperoleh pahala." (HR. Muslim)
Dari Abu Dzar pula; pesan Nabi Saw. kepadaku demikian:
لاَتَحْقِرَنَّ مِنَ اْلمَعْرُوْفِ شَيْــًٔا وَلَوْ اَنْ تَلقَى اَخَكَ بٍوَجْهٍ طَلِيْقٍ .(رواه مسلم).
Artinya: "Hati-hatilah kamu, sekali-kali janganlah kau anggap kecil suatu perbuatan baik, sekalipun hanya dengan bersikap ramah-tamah sewaktu bertemu dengan kawanmu." (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah, Rasul bersabda:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اْلاِشْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَاْلكَلِمَةُ الطَّيْبَةُ صَدَقَة، وَبِكُلِ خَطْوَةٍ تَمْسِسْهَا اِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ اْلاَذٰى عَنِ الطَّريْقِ صَدَةٌ. (متفق عليه).
Artinya: "Seluruh persendian anggota tubuh manusia dibebani tugas sedekah setiap matahari terbit, karena berusaha menengahi dua orang yang tengah bersengketa secara adil dianggap sedekah, dan mengeluarkan kata-kata baik itu sedekah, melangkah ke mesjid melakukan shalat setiapnya berarti sedekah, membersihkan para perusuh lalu lintas di jalan raya juga dianggap sedekah." (HR. Bukhari Muslim).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda :
مَنْ غَدَا اِلَى اْلمُسْجِدِ اَوْرَاحَ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُ فِى اْلجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا اَرَحَ . (متفق عليه).
Artinya : ”Barang siapa pergi ke mesjid melakukan shalat berjamaah setiap pagi atau petang, maka Allah mempersiapkan hidangan baginya di surga setiap pagi dan petang.” (HR. Bukhari-Muslim).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda :
"Pada suatu ketika seorang pria yang tengah menempuh perjalanan jauh, merasa haus, lalu turun ke sumber air/perigi dan minumlah sampai lenyap dahaganya, kemudian sewaktu keluar dari tempat minum itu, ia melihat seekor anjing tengah dahaga pula, ia menjilati tanah. Kata hatinya; " Anjing itu pasti terasa dahaga seperti aku tadi, lalu kembalilah orang itu ke tempat air tersebut dan mengambilnya sepenuh sepatunya dan diminumkan kepada anjing itu, maka dengan demikian Allah memujinya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya; "Ya Rasul, berpahalakah kami dalam membantu hewan? Jawabnya: Ya, pada setiap rongga perut basah, pahala." (HR. Bukhari-Muslim).
Disebutkan: "Allah memuji perbuatan orang itu, dan mengampuni dosanya serta memasukkannya ke surga."
Dari Jabir Rasulullah Saw. bersabda :
کُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ . (رواه البخارى)
Artinya: ”Setiap orang berbuat baik dianggap sedekah.” (HR. Bukhari).
Dari Jabir pula, Rasulullah Saw. bersabda :
مَامِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرٍسًا اِلاَّ كَانَ مَا اُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَاسُرقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَلاَ يَرْزَؤُهُ اَحَدٌ اِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً (رواه مسلم).
Artinya: ”Tiada seorang Islam menanam suatu pohon/tanaman, lalu berbuah dan dimakan, melainkan yang dimakan itu berarti sedekah, yang dipetik pencuri dianggap sedekah, dan tiada seorang pun yang memetiknya berarti sedekah.” (HR. Muslim)
Riwayat lain menyebutkan; ”Tiada seorang Islam menanam pohon/tanaman, lalu dimakan manusia atau hewan atau burung, kecuali dianggap ia sedekah hingga hari kiamat.”
Dari Adi bin Hatim, Rasulullah Saw. bersabda :
اِتَّقُوا الــنَّــارَ وَلَوْبِشِقِّ تَّمرَةٍ (متفق عليه).
Artinya: ”Pelihara dirimu dari siksa neraka, sekalipun hanya dengan separoh biji kurma yang kau sedekahkan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Disebutkan dalam riwayat lain; Rasul Saw, bersabda: ”Setiap orang tanpa terkecuali dihadapkan dan berdialog langsung dengan Tuhan tanpa lewat orang ketiga (juru bahasa), lalu ia menoleh kanan - kiri yang ada hanyalah amal-amal (baik atau buruk)nya menghadap ke muka yang ada hanyalah api yang siap menyengatnya, maka peliharalah dirimu sejauhnya dari api dengan sedekahmu, sekalipun hanya separuh biji kurma, dan bagi yang tidak ada kemampuan bersedekah, hendaklah berkata-kata yang baik.” (HR. Bukhari Muslim).
Dari Anas, Rasulullah Saw. bersabda :
اِنَّ اللّٰهَ لَيـرْضَى عَنِ اْلعَبْدِ اَنْ يَأْکُلَ اْلأَ کْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا اَوْيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا . (رواه مسللم)
Artinya : ”Sungguh Allah sangat ridla kepada orang yang sehabis makan atau minum, mengucapkan ALHAMDULILLAAH.” (HR. Muslim).
Dari Abi Musa, Nabi Saw. bersabda: ”Setiap orang Islam harus sedekah,” Abi Musa bertanya: ”Kalau tiada yang disedekahkan? Jawabnya: ”Bekerjalah demi mencukupi nafkah/kebutuhan hidupnya lalu bersedekah. Ia bertanya: ”Kalau tiada kemampuan untuk itu? Jawabnya: ”Membantu orang tengah kecewa dengan hajatnya (sial usahanya).” Ia bertanya: ”Kalau tidak mampu? Jawabnya: ”Hendaklah amar-ma'ruf atau penyeru berbuat baik.” Ia bertanya: ”Kalau tidak mampu juga, jawabnya: ”Mengekang nafsu kejahatan dirinya, itu berarti juga sedekah.” (HR. Bukhari-Muslim).
Demikian baiknya ajaran agama Islam, yang diserukan oleh Rasul-Nya Muhammad Saw. Kepada setiap pemeluknya diserukan supaya membahagiakan diri pribadi, keluarga dan masyarakat lingkungannya. Setiap pemeluknya diharuskan pandai menciptakan suasana/keadaan aman, tenteram dan damai di lingkungan masyarakat di mana ia berada, di mana ia hidup, di mana ia berdomisili sehingga masyarakat sekitarnya merasa aman dan damai, penuh kebahagiaan yang ia ciptakan dengan memberi keuntungan bagi yang mampu melakukannya, atau setidaknya tidak sampai berbuat kacau, tidak berbuat hal-hal yang merugikan diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya yakni dengan mengekang dan menahan diri dari kejahatan nafsunya.
Inilah tujuan Islam yang dengan materi pelajarannya, jika benar-benar dilaksanakan oleh setiap pemeluknya, pasti sanggup menciptakan perdamaian dan kebahagiaan merata bagi masyarakat dunia (internasional).
