Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

  • BAB SHIDIQ/BENAR.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Shidiq, benar atau jujur dalam segala hal-ihwal, baik dalam bentuk perbuatan, sikap dan i'tikad/kepercayaan serta perkataan, adalah merupakan salah satu dari sekian banyak sifat-sifat terpuji (Akhlakul karimah) yang wajib dipupuk, dipelihara dan dimiliki oleh pribadi-pribadi muslim dan mukmin yang sempurna, karena dengan demikian tiada sedikitpun kesulitan bagi masyarakat dunia, untuk mencapai kemajuan, kemakmuran dan kebahagiaan nyata, secara adil dan merata. Hal ini diserukan oleh Allah dalam Firman_Nya :

يَـااَيُّـهَـاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اَتَّقُوا اللّٰهَ وَکُونُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ . (التوبة : ١١٩).

Artinya : ”Hai orang-orang mukmin, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan para shiddiqin (orang-orang jujur dan benar).” (At Taubat: 119)

وَالصَّــادِقِــايْنَ وَالصَّــادِقَــاتِ .

Artinya : ”........ dan orang-orang yang jujur dan benar, baik pria ataupun wanita.......maka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi mereka.” (Al Ahzab : 35).

فَلَوْ صَدَقُوْا اللّٰهَ لَکَانَ خَيْرًا لَهُــمْ .(محمّد : ٢١)

Artinya : ” ....... apabila mereka bersikap benar kepada Allah (atau beri'tikad benar), pasti lebih menguntungkan bagi mereka.” (Muhammad: 21).

Adapun hadits-haditsnya adalah sebagai berikut :

Dari Ibnu Mas'ud, Nabi Saw. bersabda:

اِنَّ الصِّدْقَ يَهْـدِىْ اِلَى اْلبِرِّ ، وَاِنَّ اْلٔبِرَّ يَهْدِىْ اِلَى اْلجَـنَّةِ ، وَاِنَّ الرَّ جُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُکْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيْقًـا . وَاِنَّ اْلکَذِبَ يَهْدِىْ اِلَى اْلفُجُوْرِ ، وَاِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدىْ اِلَى النَّارِ ، وَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَکْذِبُ حَتَّى يُکْتَبَ عِنْدَاللّٰهِ کَذَّابًــا .

Artinya : ”Bahwasanya benar/jujur itu mendorong kepada kebaikan/ beribadah dan kebaikan mengantarkan ke surga. Dan sungguh kebiasaan benar/jujur bagi seseorang, dapat menciptakan catatan Shidiq di sisi Allah, sebaliknya dusta/bohong itu menyeret kepada lancung/lacur dan lancung menjerumuskan seseorang ke neraka. Dan sungguh kebiasaan dusta/bohong bagi seseorang, dapat menjadikan catatan pendusta di sisi Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Hasan bin Ali (cucu Rasul): ”Aku hafal materi pelajaran dari Rasul Saw. yaitu :

دَعْ مَــايُرِيْبُكَ اِلاَّمَــالاَيُرِبُكَ ، فَاِنَّ الْصٌِّدْقَ طُمِأ نيْنَةٌ . وَالْکَذِبَ رِيْبَةٌ . (رواه الترمذى).

Artinya : ”Hendaklah kau tinggalkan hal-hal yang meragukan, dan lakukanlah yang tidak meragukan bagimu, sungguh berlaku benar/jujur itu dapat menciptakan jiwa tenteram, dan aman, sedangkan dusta/bohong itu mengakibatkan jiwa gelisah/ragu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sufyan dalam kisahnya dengan raja Heraklius, kata raja : ”Apa yang diserukan Nabi Muhammad kepadamu? Abu Sufyan jawab : ”Beliau Saw. menyerukan supaya kamu berbakti, menyembah kepada Allah Yang Tunggal, janganlah kamu menyekutukan_Nya dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah segala bentuk tradisi yang dikatakan nenek moyangmu, dan beliau menyuruh kami shalat, berlaku benar/jujur, beradab/sopan serta silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Sa'id, Nabi Saw. bersabda : ”Barangsiapa memohon mati syahid kepada Allah dengan benar, pasti Dia mengangkat orang itu ke derajat mati syahid, sekalipun dalam kenyataan orang itu mati di atas tempat tidurnya.”

Dari Abu Hurairah, Rasul Saw. bersabda: ”salah seorang Nabi terdahulu, berangkat ke medan laga, dan sebelumnya menasehati kaumnya, katanya; bagi para pengantin baru yang belum bersenggama sebaiknya jangan ikut perang bersamaku, demikian pula mereka yang tengah membangun rumahnya belum selesai, dan mereka yang baru saja membeli hewan ternaknya (domba atau unta) tengah menunggu keturunannya. Alkisah, berangkatlah Nabi itu diikuti beberapa orang sahabat, lalu sesampainya di ujung kampung yang ia tuju, kira-kira habis ashar/menjelang matahari terbenam, berkatalah ia kepada matahari : ”Hai matahari kamu tengah melaksanakan tugas, demikian pula aku, lalu berdo'a : Ya Allah, tahanlah dulu ia (matahari) bagi kami, maka berhentilah matahari, tidak segera terbenam, hingga kampung itu dapat dikuasai olehnya. Alkisah, sesudah perang usai, rampasan/ghanimah perang dikumpulkan, dan tibalah api, namun api tersebut tidak mau memakannya. Sahud Nabinya : ”Diantara kalian pasti ada yang berkhianat, oleh sebab itu berbai'atlah kepadaku setiap komandan yang mewakili sukunya, lalu mereka berbai'at semuanya. Secara tiba-tiba tangan salah seorang komandan melekat pada tangan Nabinya sewaktu berjabat tangan. Nabinya berkata: ”Dalam tubuh anggota suku bangsamu ada yang berkhianat, untuk itu suruhlah setiap anggota sukumu berbai'at kepadaku. Ternyata ada 3 orang yang tangannya melekat pada tangan Nabinya, lalu diserukan kepada mereka bertiga : ”kamu bertigalah yang berkhianat. Dan emas sebesar kepala sapi keluar dari tubuh mereka bertiga itu. Baru sesudah emas itu dihimpun dengan ghanimah lainnya, api yang menyala itu mau melahapnya (suatu pertanda bahwa perjuangan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah diterima dan berpahala). Karena bagi para Nabi dan sahabatnya dahulu sebelum Nabi Muhammad, tidak dihalalkan mengambil rampasan/ghanimah hasil peperangan. Kemudian Allah menghalalkan ghanimah kepada kita, ketika Dia perhatikan kelemahan dan kebutuhan kita (umat Muhammad).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut memperingatkan bahwa benar/jujur dapat membahagiakan, tetapi dusta/bohong mengakibatkan binasa, baik dirasakan ketika hidup di dunia ataupun kelak di akhirat.

Dari Ibnu Hizam, Rasul Saw. bersabda:

اَلْبَيِّعَانِ بِاْلخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَاِنْ صَدَقَا وَبَيِّنَا يُوْرِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَاِنْ كَتَمَا وکَذَبَا مُحِقَتْ بَرَکَةُ بَيْعِهَا . (متفق عليه)

Artinya : ”pedagang dan pembeli selama belum berpisah mereka bebas belum terikat, maka jika mereka berdua berlaku benar dan terus terang, jual belinya memperoleh berkah, namun sebaliknya jika mereka berdua menutup-nutupi aibnya dan berlaku curang/dusta, maka lenyaplah berkah jual belinya itu.” (HR. Bukhari Muslim).

Dimaksud bebas belum terikat, yaitu : ”Bebas bagi mereka berdua, jual beli dilangsungkan ya bisa, diurungkan ya boleh, selama belum berpisah dari majlis itu. Tapi jika sudah berpisah, maka kedua belah fihak harus memelihara keputusan bersama sewaktu berada di majlis itu.

Dan dengan hadits tersebut di atas, diserukan adanya sikap jujur dan berlaku benar serta keterbukaan dalam berusaha/bekerja mencari rezeki yang halal, karena dengan demikian hasil usahanya membawa keberkahan, dapat membangkitkan semangat beribadah dan beramal demi kebahagiaan hidup baik di dunia sekarang ini, ataupun kelak di akhirat.

Akan tetapi jika berbuat sebaliknya (yakni dusta, curang dan sembunyi-sembunyi), maka usaha dan hasilnya, sekalipun kelihatan banyak, namun selalu tidak cukup, menjadikan rakus, pemboros, harta mudah habis, dan berat dipergunakan untuk beribadah ataupun beramal baik, itulah suatu bukti tiadanya keberkahan dalam harta hasil usahanya.

Untuk itu berlakulah jujur dan benar, terutama dalam melaksanakan pekerjaan, baik berdagang, bertani, sebagai karyawan, nelayan dan lain-lain supaya usaha dan hasilnya selalu diberkahi oleh Allah Swt.

🙏

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” – (HR. Shahih Muslim ).